Surat Buat Presiden JOKOWI; Harapan Kendari Kreatif Kepada Pemimpin Baru

Senin, 20 Oktober 2014


jokowi_jk_wpap_by_vector10-d7kb493

Dibuat di Kota Kendari - Provinsi Sulawesi Tenggara
Tanggal 20 Oktober 2014

Kepada Yth.
JOKOWI
Presiden Republik Indonesia
Di -
Istana Merdeka.


Banyak yang meragukan akan keberhasilan pembangunan ekonomi kreatif. Keraguan itu tentunya lahir dari kelompok dan penggiat usaha kreatif yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Keraguan itu tercermin dari kegelisahan anak muda yang memiliki segudang ide, namun tak memiliki ruang dalam menuangkan ide itu, ide saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kekuatan besar bangsa ini. Pemimpin bangsa ini yang baru saja dilantik menaruh harapan besar kepada anak muda untuk berkreasi. Tapi apalah artinya kreasi jika itu hanya sampai digagasan, tapi tidak sampai pada tataran aplikasi.

Ide-ide besar pemimpin yang baru ini tentunya harus tertuang dalam tindak lanjut dilapangan. Kalau WS Rendra pernah bilang "Perjuangan Adalah Pelaksanaan Kata-Kata" maka kata-kata pemimpin baru kali ini harus jadi perjuangan. Ekonomi kreatif harus diperjuangkan agar berguna bagi masyarakat, dan untuk kemakmuran rakyat. Rakyat jangan hanya di iming-imingi pidato-pidato kenegaraan. Sebab rakyat tak butuh retorika, rakyat butuh kesejahteraan.

Maka dari itu harapan kami dari Kendari Kreatif komitmen akan pentingnya membangun rakyat sejahtera melalui industri kreatif. Kalau ucapan Mbak Tita Larasati Sekjen BCCF (Bandung Creative City Forum), waktu berkunjung ke Markas Kendari Kreatif pernah bilang "Siapapun presidennya ekonomi kreatif harus jalan terus". Kami tahu bahwa kami memiliki banyak kekurangan, namun dengan kekurangan itu kami butuh komitmen bersama pemimpin baru ini untuk terus memperjuangkan ekonomi kreatif dan menutup seluruh kekurangan. Mengenai gagasan atau konsep tentang ide-ide kreatif itu tentunya sudah menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat.

Jangan hanya euforia yang dikedepankan dengan mempertontonkan pesta rakyat dibundaran HI. Lebih jauh dari itu kami selalu berharap dengan kepemimpinan baru ini lebih mengedepankan ekonomi berbasis kerakyatan, dalam hal ini ekonomi kreatif. Jadilah pemimpin seutuhnya, pemimpin yang mendahulukan keinginan rakyat, keinginan yang didukung oleh segenap harapan rakyat Indonesia.

Euforia saja tidak cukup, atau membangun pencitraan saja tidak cukup. Ekonomi Kreatif Indonesia harus digiatkan demi memajukan kesejahteraan masyarakat luas. Kegelisahan kami adalah ketika pidato tentang ekonomi kreatif hanya menjadi fatamorgana. Perlu digaris bawahi, ini untuk pemimpin baru Indonesia, kami menaruh harapan besar mengenai kemajuan ekonomi kreatif. Masalah terbesar kami, ketika rakyat disini hanya menaruh harapan menjadi pegawai berokrasi, satu sektor ini yang menjadi perhatian masyarakat. Sementara tingkat produktifitas masyarakat hanya sampai di forum-forum seminar dan pelatihan, tapi penerapan akan pentingnya produksi itu sama sekali nihil. Semoga pidato itu bukan sekedar dongeng belaka dari seorang pemimpin baru.

Demikian, atas perkenaannya diucapkan terima kasih.


Hormat Kendari Kreatif,
SALAM KREATIF...
Derlianun Barthesian Latoharu








Testimoni Pergerakan




Agar manusia bisa berjalan di awali dengan merangkak.
Agar manusia bisa mengelilingi dunia diperlukan sebuah langkah pertama.
Lukisan dimulai dengan goresan warna yang sederhana.
Simfoni dimulai dengan sebuah nada yang biasa.

Puisi di awali dengan sebuah huruf yang normal.
Bangunan di awali dengan peletakan batu pertama yang kecil.
Dan penyebab orang berhasil bukan karena takdir,
Tapi hasil kombinasi dari Doa, Impian dan Kesungguhan,
Dalam berusaha dan rasa syukur kita terhadap apa yang telah diberikan Maha Kuasa.

Kita baru memulai goresan awal,
Pada lukisan terindah milik kita.
Kita baru membunyikan nada pertama,
Dalam simfoni tersyahdu milik kita.


Kita baru menulis huruf pertama,
Dalam puisi yang akan terkenang selamanya.
Kita baru menaruh batu pertama,
Yang akan membangun gedung termegah dan terkokoh hingga akhir masa.

Jangan berhenti berjuang...!


Pendiri K.U.T. (Kendari Urban Trace) | Praktisi Parkour and Free Running Kendari


KESEPAKATAN

Sabtu, 04 Oktober 2014


Oleh: Leea Avtari
idkf.bogor.net
Tubuhku masih oleng dan setengah sadar ketika tangan kekar itu menerobos jendela kaca yang pecah, menggapai pengganjal pintu kamarku. Jika saja jemari-jemari besarnya tidak membekap mulutku dan mengatakan, “Jangan berteriak Nanti sa bunuh ko ditempat” sepertinya aku masih mampu berpikir kalau ada tamu malam-malam yang ingin curhat karena kesepian.    
Aku memberontak dengan seluruh tenaga. Aku hanya berpikir untuk keluar dari kamar ini bagaimana pun caranya. Namun sial lelaki bertopeng ini menarik keras tubuhku hingga aku terhuyung di dinding. Ia berhasil meraihku. Tangannya menekan leherku. Ia memperlakukanku lebih kasar; kedua tangannya menekan leherku lebih kencang dan saat itu aku kehilangan lebih dari seperdua pernapasanku dan ini gawat. Aku berusaha menghirup partikel udara dengan sisa pernapasan yang minim. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan selain pasrah dan mengikuti kemauan lelaki bejat ini. Pasrah? Aku kembali berpikir, bukankah pasrah diperuntukkan oleh manusia yang hebat, berjuang apapun yang diinginkannya lalu sisanya diserahkan pada Tuhan. Tuhan tidak buta dan tidak pernah tidur. Sungguh tidak berlebihan jika aku mengatakan kalau saat itu ada sesuatu yang masuk dijiwaku menjelma jadi ketenangan di alam pikir juga sanubariku.                 
Aku harus melawan dengan cara lain, bukan dengan tenaga yang berasal dari fisikku yang lemah. Tenagaku sudah terkuras, mana mungkin bisa melepaskan diri dari algojo ini. Yah, aku harus tenang. Bismillah…    
Aku berujar mantap, “Tenang” kata itu untuk kami berdua. Setidaknya kalau ia berhasil melukaiku, ia melakukkannya dengan tenang dan aku tak akan begitu kesakitan, tapi itu akan menjadi ending yang buruk. Sa akan lakukan apa pun yang ko mau” mata kami begitu dekat, aku bisa melihat jelas kilatan mata jahat itu.
Sa butuh uang” Ia menyeret tubuhku dengan cara menarik leherku dengan kedua tangannya, meski tidak sekeras tadi.                                                                                        
“Matikan lampu“
Kami sudah ada didepan colokkan lampu. Aku diam seolah tak mendengar kata-katanya. Ia menarik colokkan dan kamar menjadi gelap gulita, hanya ada sedikit cahaya yang masuk melalui pentilasi. Hah! Apa yang akan dilakukannya? Apakah ini ada hubungannya dengan kata-kataku yang tadi kalau aku akan melakukan apapun untuknya. Melakukan apapun? Mengapa kata-kata itu terasa mengerikan. Detak jantungku mulai berpacu cepat.
Suaranya membuyarkan prasangkaku, mana uang” matanya jelalatan, Sa butuh uang” hei, siapa dia meminta uang dengan mudahnya, memangnya aku ini brankas. Hmm, dia pikir semudah itu mendapatkan uangku, hasil jerih payah Ayah Ibu dikampung.
“Ya, sa akan berikan, tapi tolong lepaskan tanganmu dari leherku, sa ndak bisa mi bernapas” ucapku sangat lembut. Ia melepaskan leherku membiarkanku membuka dompet dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu.   
“Hanya ini ji yang sa punya, tolong nah. Ko sudah salah masuk mi kasian, sa ini orang miskin, orang tuaku cuma petani ji dikampung. Sa datang disini hanya untuk menuntut ilmu” Aku mulai curhat. Ia diam dan kupastikan ia menyimakku dengan baik.
“Tolong nah, uangku ini hanya dua ratus ribu ji kalau bisa kita baku bagi saja” Akhirnya aku menggunakan win-win solution-ku. Ia terdiam lagi mungkin sedang memilih keputusannya untuk membunuh atau luluh.
“Oke mi sa butuh uang ini. Sebenarnya sa ini bukan orang jahat hanya sa kepepet saja. ”Ujarnya pelan. What? Mana bisa kupercaya.
Usai sesi negosiasi kami duduk berhadap-hadapan, ia memasukan uang ke saku celana jeans dan menemukan foto yang jatuh dari dompetku. Belum sempat ia memperhatikan, tangan kananku sudah lebih dulu menepuk lenganya dengan instruksi yang kesal. Ia kembali memegang uangnya. Ya, uang itu sudah jadi miliknya dan aku berusaha menganggap ini sebagai sedekah. Terkadang penjahat pun terlihat memprihatinkan
Di menit-menit berikutnya aku terlihat tengah bersahabat dengan perampok. Setelah adegan yang melankolis aku masih berusaha menceritakan segala hal, yang kira-kira bisa membuat lelaki itu luluh. Aku merasa beruntung masih mengingat dialog-dialog distudio teater. Ia mengaburkan identitasnya dan berusaha membohongiku. Berulang kali ia tegaskan kalau ia terdesak melakukan semua ini.
Masih dalam suasana berdebar aku menjelaskan banyak hal padanya tentang salat tahajud, tentang sajadah yang tak pernah kulipat usai salat, ya tentang hal-hal relegius yang kira-kira bisa membuatnya lebih mudah mengingat akhirat. Sebenarnya aku tak tahu apa penjelasan ini berguna. Ia menoleh ke belakang menjauhi sajadah yang didudukinya. Ia mengelus kepalaku perlahan, “Kasian… maaf nah sa masuki ko. Eh ni uangmu sa mau ganti kah” sepertinya ceramahnku berefek juga.
Nda usah mi, sa sudah ikhlaskan yang penting ko kembali ke jalan yang benar” Ia berdiri, aku berharap dia akan segera raib dan membebaskanku dari terornya. Jiwa dan ragaku teramat letih. Ia mendekati pintu lalu mundur menarik bahuku.
Argggh…!!! Aku benci ini. Aku tidak bisa melihat wajahku tapi aku yakin saat itu kulitku sangat pucat. Begitu luarbiasa kalau esok hari aku selamat tanpa kurang sesuatu apa pun. Senandung kesedihan, ketakutan luarbiasa menyumpal jiwaku. Jika hal yang tidak diinginkan terjadi aku bisa mengutuk diri selamanya. Paling tidak aku punya waktu beberapa menit untuk menyelamatkan diri dan ia mempertegas lagi keinginanya, keinginanya menggerayangi tubuhku. Tubuhku lunglai, mataku perih, jiwaku menjerit, dada seperti terhujam  menahan kepedihan yang amat sangat.
Aku cuma mampu komat-kamit dalam hati, berdoa kepada Tuhan dan aku mulai menyangsikan keselamatanku. Ia bisa saja merenggutku dengan paksa. Aku  tertunduk dilengannya, semakin lama semakin merendah dan melemah. Kudapati tubuhku dilantai bersujud seperti penyembah berhala. Aku bersujud sebanyak permintaan laknatnya. Aku masih mencoba meraih hatinya, berharap malaikat membisikan padanya kata-kata yang suci hingga melepaskan ragaku. Ah, lelaki ini membuat jiwaku meranggas kehilangan harapan, nyaris putus asa.
“Oke mi, sa nda akan apa-apa kan ko asal ko janji ko ndak akan melapor dipolisi”
Aku mengangguk dan berjanji padanya kalau hal itu takkan terjadi. Aku mematung dan masih menduga-duga apa yang akan dilakukan lelaki ini, kakinya sudah mengarah ke pintu tapi banyak hal bisa terjadi.
“Aku menyayangimu“ ia mengelus kepalaku, menciuminya dengan lembut. Tiga kali ia mengulangi kata-katanya. Glek! Kombinasi rasa muak dan takut beradu tapi tubuhku seperti dipaku, aku tak punya pilihan selain diam dan tenang. Tak ada ronde lagi dan aku hanya ingin berpikir jernih. Tubuhku mematung seperti jasad yang kehilangan ruh. Mataku tertegun menyaksikan lelaki itu keluar dari pintu kamarku. Aku membuntutinya seakan-akan dia seorang tamu yang pulang karena jam besuk telah habis. Lelaki tambun, berkulit pekat itu menuruni anak tangga dan menghilang dengan sepeda motornya.

Betul-betul tak seperti perampokSiapakah lelaki itu. Kata hati ini menjadi tidak penting, yang aku tau aku hanya kehilangan uang seratus ribu tidak yang lainnya.


POTENSI SDM KREATIF KOTA KENDARI

Kamis, 02 Oktober 2014



POTENSI SUMBER DAYA MANUSIA KREATIF KOTA KENDARI
SANGATLAH BESAR DAN LUAS!

INSAN KREATIF KOTA KENDARI 
o Komunitas

o Seniman

o Pelajar & Mahasiswa

o Aktivis, Anak Jalanan & Pengamen


EKONOMI KREATIF 
Bersinergi antar Komunitas yang berbeda, Seniman, Pelajar/Mahasiswa, Aktivis, Anak Jalanan & Pengamen dalam melakukan LitBang (R&D) Produk Kreatif

Mengangkat dan mensinergikan beberapa potensi industri (termasuk UMK & home industry) dan SDA/SDM lokal untuk menghasilkan produk-produk unggulan khas Kendari / Sultra

Meningkatkan kualitas produk dan kapasitas produksi tanpa eksploitasi berlebihan terhadap SDA, dengan tetap menjaga kelestarian alam dan kearifan lokal

Kendari adalah Kota Pariwisata (PRODUK untuk WISATAWAN).

SEKTOR/KELOMPOK INDUSTRI KREATIF 

Cakupan industri kreatif sangatlah luas. Pemerintah membagi industri kreatif ke dalam 14 kelompok.
Kelompok-kelompok itu di antaranya :
1.Arsitektur
2.Desain
3.Fesyen/Mode
4.Kerajinan
5.Penerbitan & Percetakan
6.Televisi dan Radio
7.Musik
8.Film Video & Fotografi
9.Periklanan
10.Teknologi Informasi (Komputer dan peranti lunak)
11.Seni Rupa/Barang Seni
12.Seni Pertunjukan
13.Riset & Pengembangan
14.Permainan Interaktif
15.Kuliner (indonesiakreatif.net).
 PERMASALAHAN 

Ø SDM sebagian besar belajar secara otodidak, sehingga kuantitas &   
    kualitasnya belum merata
Ø Kurangnya perlindungan HAKI
Ø Infrastruktur teknologi informasi yang belum kompetitif
Ø Dukungan pembiayaan yang belum lancar & berpihak kepada produk  
    kreatif
Ø Iklim usaha yang belum mendukung tumbuhnya pelaku usaha kreatif
    baru
Ø Kurangnya apresiasi terhadap karya dan insan kreatif
Ø Akses pasar yang belum menggembirakan & belum adanya ruang publik
    kreatif (fasilitas) yang menjadi sentral buat produk kreatif
Ø Pemanfaatan icon kota yang belum maksimal & belum adanya branding
    kota
Ø Tidak sinkronnya kebijakan pemerintah di tingkat pusat dan daerah.


ANALISA POTENSI SDM KREATIF KOTA KENDARI

STRENGTH | Kekuatan
-Sumber daya alam/wisata bahari
-Sumber daya manusia: tenaga muda terdidik & terampil, usia produktif
-Industri pangan hasil laut & bumi: olahan ikan, sagu, ubi, mete
-Industri hasil tambang: emas, nikel, aspal
-Flora dan fauna yang khas dalam wilayah Wallacea
-Situs peninggalan bersejarah dari jaman Belanda - Jepang: arsitektur & bangunan kolonial, bunker, meriam, goa dan lorong-lorong, benteng, dsb.
-Keragaman budaya lokal: tarian, makanan, bahasa, busana, tenun, dsb.
-Icon khas Kendari: Anoa, Menara MTQ, Tugu Lulo, Keby, Kota Lama Kendari
-Kendari sebagai gerbang masuk & tempat singgah wisawatan bahari
-Tumbuhnya budaya populer à wirausaha bidang clothing, komunitas musik, komunitas tarian modern, aktivis mahasiswa, dsb. 
 

 WEAKNESS | Kelemahan
-Kurangnya apresiasi terhadap produk lokal

-Sebaran konsentrasi Kota Kendari à pendatang sulit berorientasi arah

-Kurang efektifnya sistem informasi dan infrastruktur sarana publik (transportasi lokal, dsb) bagi pendatang/ wisatawan

-Keterbatasan sumber daya dan industri manufaktur à ketergantungan tinggi pada bahan baku konvensional yang harus didatangkan dari luar Kendari/Sulawesi

-Belum terbangunnya komunikasi efektif serta terbentuknya kerjasama yang sinergis dan produktif antara komunitas dan pelaku wirausaha kreatif dengan pemerintah dan investor/sponsor.
OPPORTUNITY | Peluang/Kesempatan

-Frekuensi dan jumlah wisatawan di Kendari, baik untuk transit sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat lain maupun menetap sementara di Kendari, yang pasti melalui Bandara Haluoleo sebagai gerbang masuk Provinsi Sultra - Kendari, dapat menjadi konsumen potensial

-Makin merebaknya warung-warung kopi yang menyediakan koneksi Internet gratis à arus komunikasi dan informasi dapat meningkat pesat berkat kemudahan akses Internet

-Hallo Sultra, Kendari Kreatif Fest (KKFest), Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) dan Acara Pameran Nasional lainnya

-Undangan dari KBRI di Belanda bagi Sulawesi Tenggara untuk berpartisipasi dalam Pasar Malam

-Pemkot dan Pemprov (Disparekraf Prov. Sultra) menyatakan bersedia mendukung aktivitas Ekonomi Kreatif dan membuka peluang. 

THREAT | Ancaman/Halangan 

-Persaingan
-Stabilitas keamanan
-Kondisi politik.

RENCANA KE DEPAN 

-Pembentukan Pokja: Unsur Pemerintah, Akademisi, Lembaga & Komunitas, Tokoh Masyarakat & Pengusaha >>> dengan tujuan & rencana kegiatan
-Majalah/Tabloid sebagai Catalog Produk Kreatif
-Peta Kota: peta dengan info sentra industri kreatif & spots of interest
-Realisasi Arsitektur & Desain dengan tujuan terdekat: Pemanfaatan ruang publik menjadi Creative Camp
-Creative Merchandise counter di Bandara Haluoleo dan Pelabuhan Kendari
         -Creative Merchandise outlet di ruang publik (hangout), hotel, resort & restoran/café.

Materi : SEMINAR NASIONAL PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF BERBASIS MEDIA, DESAIN & IPTEK
GRAND CLARION HOTEL KENDARI, 07 – 09 MEI 2014
Rendra Manaba | rendramanaba@gmail.com
Copyright @ 2014 Kendari Kreatif. Designed by Templateism | MyBloggerLab

Media Kreatif Sulawesi Tenggara

Media Kreatif Sulawesi Tenggara
Follow Twitter @sultranesia
Back to top
  • L3