Liputan Creative Cities Conference (CCC); Then, Now, Forever Together in Solidarity

Friday, May 15, 2015


Mendeklarasikan Terbentuknya Jejaring  Indonesian Creative City Forum (ICCF)


Be Indonesian Creative City Forum (ICCF) Foto by 
Pendopo Bandung merupakan bangunan situs sejarah peninggalan kolonialisme yang menjadi sebuah benda cagar budaya. Area dan berbagai bangunannya telah dijadikan sebagai kawasan dari rumah jabatan Walikota Bandung. Suasana zaman doeloe masih terasa disini, hingga kini. Menikmati bangunan heritage sungguh mengagumkan. Dapat mengugah rasa serta membangkitkan ide dan imajinasi. Pelestarian sejarah adalah bagian dari sebuah pengetahuan dan pembelajaran untuk masa kini dan masa depan, serta menjadi bagian dari kehidupan warga Bandung yang bersahaja. Minggu 26 April 2015 pukul delapan pagi, area Pendopo menjadi ramai oleh orang-orang kreatif yang berasal dari beberapa kota di Indonesia dan internasional. Terlihat jejeran para pejuang kreatif sedang meregistrasi kehadiran mereka atas undangan dari Bandung Creative City Forum (BCCF) sebagai penyelenggara Creative Cities Conference (CCC). Acara yang menjadi rangkaian dari peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke - 60. Setelah para delegasi dan tamu undangan selesai memenuhi registrasi, pihak penyelenggara kemudian mempersilahkan untuk menikmati morning coffee terlebih dahulu. Bertempat tepat ditengah kawasan antara taman dan bangunan Pendopo. Halaman tersebut menjadi area food and beverage dalam Konferensi Kota Kreatif yang baru pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia.

Para delegasi dan tamu undangan CCC begitu menikmati suasana asri nan bersejarah. Sehingga dengan sendirinya dapat terbangun keakraban dan rasa kekeluargaan. Bercengkrama antara satu dengan yang lainnya, serta saling tegur sapa antara delegasi dan tamu undangan menemani sarapan pagi itu. Tidak lama kemudian datanglah Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia disusul dengan para pembicara internasional. Diantaranya dari SouthEast Asian Creative Cities Network (SEACCN), Asia Europe Foundation (ASEF) dan Thailand Creative and Design Center (TCDC). Yang kemudian ikut membaur bersama menikmati morning coffee. Sebuah acara konferensi yang inklusif dan mengindahkan sebuah aturan protokoler yang serba kaku, walau bertempat disebuah rumah jabatan Walikota. Inilah kebaruan dari sebuah penyelenggaraan konferensi berskala nasional dan internasional, yang digabungkan secara bersamaan. Acara ini menggunakan venue semi outdoor yang bertempat di sebuah Pendopo. Dimana udara dengan leluasa dapat masuk untuk ikuti serta dan menemani para delegasi, tamu undangan maupun pembicara.

Delegasi, Tamu Undangan, Pembicara CCC Foto by 
Sementara dari dalam bangunan rumah jabatan Walikota Bandung, Ridwan Kamil ditemani Istri bersama dengan Achmad Purnomo Wakil Walikota Surakarta. Mereka secara surprise hadir ditengah forum yang kemudian menyapa serta mengundang secara langsung para delegasi, tamu undangan dan pembicara untuk menuju ke Alun-Alun terlebih dahulu, dengan berjalan kaki. Jarak antara Pendopo dan Alun-Alun kota Bandung sekitar 20 meter. Semua rombongan CCC tanpa terkecuali ikut berjalan kaki bersama-sama dengan rasa senang. Alun-Alun Bandung telah berubah bentuk, selain sebagai tempat hangout, juga menjadi public space. Serta menjadi tujuan wisata kota favorit bagi warga Bandung dan sekitarnya. Alun-Alun sangat mempesona dengan adanya rumput sintetis dan taman bunga cantik berbagai warna, yang mewajibkan para pendatang agar tidak mengenakan alas kaki untuk bisa menikmatinya, sehingga kebersihan dan kesucianya tetap terjaga. Ini adalah bentuk inovasi dari sebuah arsitektur ruang terbuka publik yang dapat membuat masyarakat menjadi gembira dan bahagia. Posisi Alun-Alun berdampingan mesra dengan Mesjid Raya Bandung yang menjadi tempat pelaksanaan opening ceremony Helar Fest 2015. Kegiatan ini merupakan program tahunan dari BCCF, dan sudah diselenggarakan sejak tahun 2008.

Opening Ceremony Helar Fest 2015 at Alun-Alun Kota Bandung Foto by 
“Helar Fest adalah ruang bagi komunitas-komunitas kreatif untuk unjuk diri dengan aksi kreatifitasnya, dan menjadi fasilitas untuk mempromosikan dan memasarkan produk lokal yang dihasilkan secara konsisten. Kegiatan ini akan berlangsung selama hampir sebulan penuh dengan beragam agenda acara. Tagline yang kami angkat untuk tahun 2015 adalah Bandung Statement. Ini sebagai bentuk perayaan bagi komunitas, seniman, relawan KAA dan masyarakat umum”. Pungkas Tegep Direktur Helar Fest 2015. Kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan dari Fikisatari sebagai ketua BCCF yang menitiskan bahwa kegiatan ini didedikasikan buat almarhum kang Irvan Noeman yang baru seminggu meninggalkan kita semua. Almarhum memiliki cita-cita besar dan kini menjadi kenyataan ditahun ini. Fiki mengutip kembali analogi pisang muda, matang dan busuk yang menjadi jargon perjuangan dari almarhum dalam mewujudkan kota kreatif. Posisi Helar Fest 2015 telah menjadi bagian dari perkembangan ekonomi kreatif Indonesia”. Tutup Fikisatari. Keceriaan masyarakat umum yang berbondong-bondong datang ke Alun-Alun kota Bandung pagi itu, terlihat jelas dari raut wajah mereka begitu bergembira dan bahagia. Setelah melihat pemimpin mereka telah merubah wajah Bandung menjadi lebih bermartabat penuh dengan kreatifitas.

Ridwan Kamil adalah Walikota Bandung. Dimana dalam sambutannya menjelaskan bahwa Helar Fest tahun ini merupakan rangkaian dari acara peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke – 60 tahun. Menjadi sebuah sejarah bagi kehidupan dunia dalam menghapus segala bentuk penjajahan. Awalnya hanya khusus untuk kawasan benua Asia dan Afrika, yang kemudian menjadi inisiatif terbentuknya negara-negara non blok. Semoga acara ini juga menjadi kekuatan bangsa untuk membendung adanya penjajahan ekonomi dan sosial yang terjadi di negara berkembang hingga kini. Helar Fest 2015 memiliki 29 rangkaian kegiatan kreatif, salah satunya adalah Creative Cities Conference (CCC) yang bertempat di Pendopo Bandung. Dan beberapa creative event yang ditujukan bagi seluruh warga Bandung, tamu nasional maupun internasional. Sementara Triawan Munaf kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia menyatakan bahwa Bandung sudah melewati banyak perubahan. Kota yang berantakan mungkin bisa saja menginspirasi para kreator, tapi warga butuh kota yang teratur untuk mengkonsumsi karya-karya kreatif. Saya lahir, besar dan menempuh pendidikan di kota ini. Baru kali ini saya dapat merasakan kegembiraan atas semua perubahan yang telah terjadi oleh kebijakan dari seorang pemimpin kreatif. Warga Bandung sangat bersyukur telah memiliki pemimpin yang visioner dan tahu bagaimana cara membahagiakan masyarakatnya”. kutip Triawan.


Sambutan Kepala Bekraf RI Opening Ceremony Helar Fest 2015 Foto by 
Acara opening ceremony Helar Fest 2015 ditandai dengan pelepasan burung merpati dan balon gas secara bersamaan. Dilanjutkan dengan penyerahan cenderamata buku tentang Konferensi Asia Afrika dari Karang Taruna Kota Bandung. Kemudian dilanjutkan dengan agenda kegiatan lainnya yang menjadi rangkaian dari acara Helar Fest 2015. Sebagai kegiatan edukasi dan hiburan cerdas bagi masyarakat luas. Setelah acara opening ceremonial di Alun-Alun selesai dilaksanakan, kemudian rombongan delegasi, tamu undangan, pembicara CCC dan Walikota beserta jajaran Pemkot Bandung, Wakil Walikota Surakarta serta Kepala Bekraf RI kembali berjalan kaki menuju Pendopo untuk melanjutkan pelaksanaan Creative Cities Conference. Sesampai di Pendopo, para delegasi dan tamu undangan serta pembicara disambut dengan senyum sumbringa oleh para penyelenggara, yang sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk melaksanakan CCC. Susunan kursi dengan desain seminar menjadi tempat para delegasi. Tiba-tiba sumber dari pengeras suara yang diantarkan oleh MC mempersilahkan untuk mengambil bagian masing-masing di kursi tersebut. Acara Creative Cities Conference diawali dengan kata sambutan dari Komite Kreatif Kota Bandung yang diwakili oleh Kepala Bidang Ekonomi Kreatif. Dan berlanjut dengan penandatangan MOU antara Pemerintah Kota Bandung dan Pemerintah Kota Surakarta untuk berkomitmen bekerjasama mengembangkan industri kreatif antar kedua kota kreatif itu. MOU tersebut disaksikan langsung oleh Kepala Bekraf RI.


Pemaparan Ridwan Kamil di CCC Foto by 
Penandatanganan MOU ini menjadi contoh komitmen antar kota kreatif di Indonesia untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta memperkuat sub sektor industri kreatif yang telah dipetakkan ditiap-tiap kota sebagai kekuatan ekonomi baru. Kita telah banyak menguras energi positif menjadi energi negative. Karena kecenderungan berkompetisi antar kota. Ekonomi kreatif dapat dengan mudah berkembang jika kota-kota di Indonesia dapat berjejaring dengan baik dan berkesinambungan. Setiap kota memiliki keunggulan dalam menghasilkan produk kreatif dan menjadi ciri khas dari kota tersebut. Dengan jejaring ini, pasar akan terbuka luas dan SDM disetiap kota bisa saling berinteraksi serta membentuk solidaritas. Sehingga permasalahan pengembangan industri kreatif dengan tepat menghasilkan solusi. Jejaring kota Bandung hingga kini sudah terbangun antar kota-kota di Asean, Asia dan beberapa kota di Eropa untuk menyambut kehadiran MEA dan globalisasi. Dengan semangat Solidaritas Asia Afrika, dua hari Creative Cities Conference, mari senyapkan kata kompetisi dan gaungkan kata kolaborasi. Menutup pemaparan Kang Emil.


Pemaparan Triawan Munaf di CCC Foto by 
Triawan Munaf dalam pemaparan materinya menjelaskan tujuan dibentuknya Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia oleh Presiden Jokowi. Untuk menyikapi adanya perubahan peradaban ekonomi yang telah terjadi. Yaitu dari ekonomi pertanian, ekonomi industri, ekonomi informasi dan kini masuk pada peradaban ekonomi kreatif. Tentunya Indonesia sebagai negara besar yang masih memiliki semua peradaban tersebut, serta memiliki banyak SDM kreatif dan potensial untuk mengembangkan industri kreatif yang telah dibagi ke dalam 16 sub sektor yaitu film, video dan fotografi, musik, teknologi informasi, desain, mode, kerajinan, arsitektur, periklanan, permainan interaktif, riset dan pengembangan, seni pertunjukan, seni rupa, tv dan radio, penerbitan dan percetakan serta kuliner. CCC ini menjadi proyek kolaborasi dalam membangun solidaritas untuk mengembangkan industri kreatif Indonesia. Kita akan mendorong adanya perlindungan hak kekayaan intelektual bagi setiap karya yang dihasilkan oleh anak bangsa, membuka pasar nasional dan internasional agar pelaku industri kreatif semakin masiv dalam berkarya dan terus berinovasi. Melaraskan hubungan kerjasama antara pemerintah, pengusaha, akademisi, komunitas maupun para pengiat seni dan pelaku industri kreatif. Serta membuat regulasi yang tepat dalam hal permodalan oleh perbankan maupun lembaga keuangan lainnya.


Pemaparan Materi Internasional CCC Foto by 
Keseruan konferensi ini terasa begitu mengasikkan, melahirkan semangat baru untuk konsisten ber komitmen mengembangkan industri kreatif kepada setiap delegasi dan tamu undangan yang hadir. Semangat tersebut tetap bersemayang hingga memasuki waktu istirahat siang. Disela waktu istirahat dan makan siang, dalam forum ini juga menghadirkan performance dari musisi muda dan komunitas kreatif yang beraksi untuk menghibur para delegasi dan tamu undangan serta pembicara yang ada. Waktu break CCC tidak perna kosong, melainkan diisi dengan pemutaran video dokumentasi dari BCCF. Kita dapat saksikan disisi kiri dan kanan layar serta monitor LCD yang terpasang disudut-sudut Pendopo dengan rapi. Setelah istirahat, acara dilanjutkan lagi dengan materi dari pembicara internasional yaitu Dr. Neil Khor Jin Keong dari SouthEast Asian Creative Cities Network (SEACCN), Anupama Sekhar dari Asia Europe Foundation (ASEF) dan Inthaphan Buakeow dari Thailand Creative and Design Center (TCDC). Persentase dari semua pembicara internasional tersebut telah membuka cakrawala berpikir dan bertindak, untuk melahirkan ide-ide cemerlang dan mengaplikasikannya secara cermat. Forum semakin aktif lagi dengan adanya sesi tanya jawab antara pembicara dan seluruh peserta yang ada, sehingga tercipta interaksi dua arah dan menjadi sebuah diskusi berkualitas. Waktu telah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Konferensi hari ini telah selesai, namun rangkaian acara CCC masih tetap berlanjut hingga malam hari.


Sightseeing - Intervened Spots Foto by 
Untuk agenda pada sore hari dilanjutkan dengan Sightseeing – Intervened Spots. Para delegasi dan tamu undangan dibawa berkeliling kota Bandung dengan alat transportasi yang unik dan lucu bernama Bandros. Bandros singkatan dari Bandung Tour On Bus yang merupakan bus pariwisata dalam kota bertingkat dua dengan desain terbuka ala Eropa. Bandros dibuat oleh Pemerintah Kota Bandung sebagai kendaraan untuk berkeliling menikmati ibukota Periangan dan berkunjung di spot-spot wisata kota kembang. Para delegasi dan tamu undangan dibagi ke dalam beberapa kelompok, setiap kelompok dikawal oleh 2 orang LO, setiap bandros mengangkut 4 kelompok dengan pembagian merata dari jumlah rombongan yang ikut. Sehingga mencukupi 3 unit bandros yang dilengkapi dengan fasilitas microfon dan alat pengeras suara serta monitor LCD. Sopirnya berpakaian adat Sunda dan ditemani dengan seorang kernet berbudaya lokal. Tour On Bus dengan tujuan utama berkunjung ke Festival Of Nation. Perjalanan dimulai dari pendopo kemudian menyusuri jalan-jalan protokol kota Bandung, diselingi dengan penjelasan dari LO melalui pengeras suara disetiap titik-titik tempat yang dilewati, dan juga berperan sebagai gaet dalam perjalanan tersebut. Bandung Tour On Bus melintasi beberapa bangunan heritage yang masih berdiri kokoh dan tetap dilestarikan, serta melewati taman-taman tematik yang kini menjadi kekayaan dari arsitektur kota Bandung.


Bandung Tour On Bus Foto by 
Sesampainya di daerah Dago yang merupakan tempat diselenggarakannya Festival Of Nation. Seluruh rombongan CCC diberi waktu selama sejam untuk menikmati festival Asia Afrika yang menjadi acara perayaan dalam peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA). Disini terdapat stand-stand internasional yang memamerkan khasanah seni dan budaya dari negara-negara peserta KAA yang sungguh menakjubkan. Dan stand nasional dari beberapa provinsi di Indonesia yang menggambarkan kekuatan industri kreatif Indonesia, serta stand lokal yang menawarkan kulinar khas Bandung. Pasca magrib seluruh rombongan sudah berkumpul ditempat yang sudah ditentukan sebelumnya, yang menjadi halte pemberhentian bandros untuk kembali ke Pendopo melanjutkan agenda CCC di malam hari. Perjalanan wisata dengan menggunakan bandros memberi sensasi yang berbeda, kita dapat merasakan wahana arung jeram di udara dengan menghindari beberapa ranting pohon dan kabel listrik yang menyisir dilantai dua bandros. Hal inilah yang membuat suasana perjalanan menjadi fantastik dan menumbuhkan rasa solidaritas dari para delegasi dan tamu undangan CCC. Di Pendopo Bandung suasana konferensi sudah berubah drastis menjadi sebuah restoran mewah dengan penataan meja dan kursi untuk menikmati diner with impressions. Perjamuan makan malam dengan sajian hiburan seni dan budaya Jawa Barat yang menampilkan tarian tradisional sebagai penutup konferensi dihari pertama.


Tarian Tradisional - Diner with Impressions CCC Foto by 
Senin, 27 April 2015 adalah hari kedua pelaksanaan Konferensi Kota Kreatif. Kali ini lebih fokus pada pembahasan nasional untuk membuat kerangka pendirian sebuah asosiasi atau forum antar kota-kota kreatif Indonesia demi memperkuat jejaring, membangun komitmen solidaritas serta membuat program bersama dan berkelanjutan kepada seluruh peserta yang ada. Pembicara pertama diantarkan oleh Gustaff Iskandar dengan materi “Kota Kreatif”. Dalam penjelasannya berisikan prinsip kota kreatif Indonesia yang terbagi atas sepuluh poin. Wacana ini mencuak ke dalam forum untuk dibahas dan dikaji secara bersama sehingga menghasilkan kesepakatan untuk mendeklarasikan berdirinya jejaring paten. Pembahasan tersebut berlangsung selama dua jam, dimana para peserta yang merupakan profesional, penggiat, praktisi, akademisi, komunitas kreatif dan pelaku industri kreatif yang ada di Indonesia. Para peserta banyak memberi masukan, saran, kritikan dan sanggahan. Sehingga menjadikan forum semakin aktif serta membuat suasana diskusi dan sharing bagaikan lautan ide-ide cemerlang yang sulit dibendung. Mewujudkan kota kreatif merupakan harapan bagi seluruh peserta yang mewakili kota masing-masing. Tercatat ada 16 delegasi kota kreatif yang ikut dalam konferensi ini. Poin-poin dari prinsip kota kreatif Indonesia diapresiasi secara bijak dan akan menjadi acuan pergerakan dan perjuangan mewujudkan kota kreatif di daerah-daerah. Selain inisiatif dibutuhkan afiliasi then, now, forever together in solidarity dengan pemerintah baik pusat, provinsi maupun kota dan kabupaten bersama dengan pengusaha yang ada didaerah untuk berkolaborasi secara intens dan konkrit menjalankan prinsip tersebut.


Pembacaan Deklarasi Indonesian Creative City Forum (ICCF)
Penandatanganan Deklarasi ICCF Foto by 
by 
Penyusunan kerangka pendirian asosiasi nasional sempat terpending untuk dibahas lebih detail oleh tim perumus yang telah dibentuk sebelumnya. Konferensi dilanjutkan dengan pemaparan materi internasional oleh Lekuthai dari Thailand Creative and Design Center (TCDC) yang membahas pentingnya sebuah Creative Center dari sebuah kota. Sementara Yose Rizal Founder of Media Wave™ berbicara tentang Politics in Social Media. Yose menjelaskan bahwa “Ridwan Kamil telah memanfaatkan sosial media sebagai alat politik. Lewat akun sosmed yang dikelola sendiri, Kang Emil dapat berinteraksi dan mendengarkan langsung suara warga Bandung. Setelah kedua narasumber tersebut menyelesaikan pemaparan dan tanya jawab. Kemudian diskusi nasional berlanjut pada hasil rumusan pendirian asosiasi kota kreatif Indonesia, yang telah disepakati bersama dengan seluruh delegasi yang hadir dan melahirkan sebuah forum nasional bernama Indonesian Creative City Forum (ICCF) sebagai lembaga yang mandiri dan independen. Deklarasi pendirian ICCF dan 10 prinsip kota kreatif Indonesia, inti poinnya berisikan welas asih, inklusif, hak asasi manusia, kreatifitas, lingkungan, sejarah, masa depan, transparan adil dan jujur, kebutuhan dasar, energi terbarukan dan fasilitas umum. Penunjukkan langsung pembacaan deklarasi di amanahkan kepada Kendari Kreatif mewakili kota Kendari, Solo Creative City Network mewakili kota Solo dan Medan Heritage mewakili kota Medan dengan penuh hikmat. Sebagai bentuk tindak lanjut hasil dari deklarasi tersebut, kota Solo akan menjadi tuan rumah tempat berlangsungnya konferensi pertama Forum Kota Kreatif Indonesia yang akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2015.


Tautan luar:
http://ccc.bccf.co/ 


American Film Showcase (AFS), Diselenggarakan Perdana Di Kota Kendari

Saturday, May 2, 2015


Penyerahan Cenderamata Plakat "Kendari City Branding" 

American Film Showcase (AFS) merupakan program inisiatif dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat bekerja sama dengan University of Southern California's School of Cinematic Arts (SCA). Melalui program ini, Kedutaan Besar dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat (AS) mengundang Leah Mahan sutradara film asal AS untuk acara film screening dan diskusi mengenai isu-isu masyarakat Amerika Serikat dari sudut pandang film dokumenter.


Diakhir acara American Film Showcase (AFS), Kendari Kreatif memberikan cenderamata kepada Konsulat Jenderal AS berupa aplikasi Kendari City Branding “ILIKENDARI” dan plakat Celebes yang merupakan kriya pasir karya Adham Art. Serta buku dari Soeharto Center yang diserahkan langsung oleh perwakilan Cendana News yang ada di kota Kendari, begitupun dari pihak Dblitz Hotel Kendari. Sebaliknya pihak Konsulat Jenderal AS memberikan cenderamata kepada Kendari Kreatif berupa paket aksesoris dan buku petunjuk belajar di Amerika Serikat.


American Film Showcase (AFS): “Come Hell or High Water”

Friday, April 17, 2015


Caryn R McClelland konsul Amerika Serikat
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat melalui Kedutaan Besar A.S. di Jakarta dan Konsulat Jenderal A.S. di Surabaya menyelenggarakan program American Film Showcase (AFS) . Program ini merupakan inisiatif dari Departemen Luar Negeri A.S. bekerja sama dengan University of Southern California's School of Cinematic Arts (SCA). Melalui program ini, Kedutaan Besar dan Konsulat Jenderal A.S. mengundang sutradara film dokumenter AS ternama untuk acara film screening dan diskusi mengenai isu-isu masyarakat AS dari sudut pandang sutradara film dokumenter. More info : http://redirect.state.sbu/…
Sebagai rangkaian program AFS, Konjen AS mengundang sutradara film AS Leah Mahan (http://redirect.state.sbu/?url=www.leahmahan.com

sumber: prtsc email Rendra Manaba 

Acara film screening (pemutaran film) “Come Hell or High Water” karya sutradara Leah Mahan, yang mengangkat isu tentang lingkungan hidup. Konjen AS memilih Kendari sebagai salah satu kota yang dikunjungi dalam rangkaian program AFS ini mengingat isu lingkungan hidup merupakan isu yang hangat di Kendari dan kami ingin menjangkau komunitas anak-anak muda yang kreatif di Kendari.
Adapun pemutaran film ini diadakan pada:
Hari/Tanggal : Sabtu, 18 April 2015
Waktu            : 19.00 – 20.30 Wita
(pemutaran film 60 menit, diskusi 30 menit bersama sutradara film AS Leah Mahan).
Tempat          : Coffee 77, Hotel Dblitz - Lantai 5.
Info & Pendaftaran Peserta Makmur Rantas (085241508453) Kha Kent PandawaLima Ku (081340392505)
Mengundang peserta (mahasiswa, masyarakat umum, aktivis LSM, publik, dll) dan pihak terkait yang berminat terhadap isu lingkungan hidup dan industri kreatif, khususnya pembuatan film dokumenter. Kami berharap melalui program ini tercipta hubungan dan kerjasama yang lebih baik antara Konjen AS di Surabaya dan anak-anak muda di kota Kendari.
leahmahan.com
Dalam kunjungan ini, Ms. Leah Mahan akan didampingi Ms. Carolina Escalera, Public Affairs Officer, Esti Durahsanti dan Christian Simanullang, Public Affairs Assistant dan Konsulat Jenderal A.S. di Surabaya selama program.
Berikut adalah informasi mengenai film “Come Hell or High Water”.
COME HELL OR HIGH WATER: THE BATTLE FOR TURKEY CREEK
Sutradara: Leah Mahan
Tahun: 2013
Durasi: 56 menit
Trailer: http://redirect.state.sbu/?url=http://vimeo.com/75982923
Sinopsis:
Come Hell or High Water: The Battle for Turkey Creek menceritakan perjalanan Derrick Evans yang penuh liku tapi juga penuh inspirasi. Derrick adalah seorang guru di Boston yang pulang ke kampung halamannya di pantai Mississippi saat makam leluhurnya digusur untuk pembangunan kota Gulfport. Selama sepuluh tahun, Derrick dan para tetangganya melawan kepentingan para politisi dan korporat serta menghadapi cobaan yang meliputi Badai Katrina dan bencana tumpahnya minyak BP. Simak perjuangan mereka dalam menentukan nasib dan menegakkan keadilan lingkungan hidup.
Biografi Sutradara:
Leah Mahan adalah pembuat film dokumenter independen yang karyanya telah dinominasikan oleh Directors Guild of America untuk Pencapaian Sutradara yang Luar Biasa. Film karya Leah, Sweet Old Song (2002), ditampilkan di serial PBS, P.O.V., dan dipilih oleh kritikus film, Roger Ebert, untuk ditayangkan pada Overlooked Film Festival miliknya (Ebertfest). Leah menghabiskan 12 tahun untuk membuat Come Hell or High Water dan diundang untuk bekerja dalam tahap kedua penyuntingan film di Sundance Institute Documentary Editing dan Story Lab. Film pertamanya adalah Holding Ground: The Rebirth of Dudley Street. Karya Leah didukung oleh Sundance Institute Documentary Fund, Independent Television Service, Ford Foundation, dan W.K. Kellogg Foundation.
Penghargaan:
New Orleans Film Festival 2013 – Penghargaan Penonton untuk Fitur Dokumenter
Sundance Documentary Edit dan Story Lab 2011 – Keanggotaan
Copyright @ 2014 Kendari Kreatif. Designed by Templateism | MyBloggerLab

Media Kreatif Sulawesi Tenggara

Media Kreatif Sulawesi Tenggara
Follow Twitter @sultranesia
Back to top
  • L3