FILM BOMBE' KARENA TANPA TEMAN KITA BUKAN SIAPA-SIAPA

Selasa, 18 November 2014


Cover Karikatur Film Bombe'
6 anak kecil; Zaki, Kayla, Aya, Nisa, Seysa dan Yudi gemar berkelahi karena pengaruh lingkungan dan kondisi yang terjadi. Akhirnya bersatu karena kesamaan nasib, mereka berada dalam sebuah kota mati. Apalagi mereka terpencar menjadi 3 kelompok. Saat mencari teman-teman yang terpisah serta kabar orangtua mereka, ke 6 anak kecil itu bahu-membahu saling mencari dan dicari. Ditengah pencarian itu, kaki Kayla terluka parah dan membuat gadis kecil ini demam tinggi hingga tak sadarkan diri. Sementara Yudi tenggelam di Pantai Losari, Zaki yang ada ditempat itu juga tidak bisa menolong dan berbuat banyak karena tidak bisa berenang. Tiba-tiba muncul sosok seseorang yang merupakan City Major, ia dikenal oleh warga Makassar dengan nama ACO yang kemudian menuntun ke 6 anak kecil yang tersesat untuk mencari tahu jawaban atas kejadian yang mereka alami. Itulah sedikit sinopsis Film Indie karya anak muda lokal Makassar yang berjudul BOMBE’.

Dalam bahasa Makassar, BOMBE’ berarti perselisihan atau permusuhan, makanya ‘Jangan Suka Baku Bombe’ tidak baik bagi kehidupan masyarakat. Film Bombe’ yang sepenuhnya merupakan garapan anak muda lokal Makassar baik dari Direktur, Produser, Penulis, Sutradara dan Tim Produksi maupun seluruh talent merupakan orang lokal. Pemeran utama dalam film ini adalah 6 anak kecil asli asal Makassar, 2 diantaranya masih duduk dibangku taman kanak-kanak (TK) yang berusia dibawah 6 tahun, bahkan ada yang masih nol kecil pada waktu syuting berlangsung. Para pemeran sengaja diambil tokoh anak kecil karena pesan yang ingin disampaikan lebih natural jika diperankan oleh anak-anak yang akan menjadi penerus bangsa, ketika melihat anak-anak berbicara dengan baik, tentunya semua orang akan tertarik menyimaknya.
Adegan Artis FB'
Adegan Nisa FB'
Film ini lahir dari kemarahan melihat fenomena bahwa anak muda kerap perang kelompok, Makassar seolah identik dengan citra buruk itu. Kata Rere yang merupakan direktur dan sutradara Film Bombe’. Melalui komunkasi via telepon bersama kontributor IK, lanjut Rere mengatakan kami ingin mengikis steriotip Makassar sebagai kota anarkis, film ini berisikan pesan moral dan sosial bagi generasi muda. Kepada orang Makassar khususnya dan seluruh orang Indonesia pada umumnya, bahwa tidak perlu rusuh ataupun bertindak anarkis, seperti yang kebanyakan diberitakan oleh media baik cetak maupun elektronik. Bukan hanya kepada warga Makassar saja, tetapi juga untuk semua masyarakat Indonesia bahwa kota Makassar tidak hanya dipenuhi dengan aksi dan tindak kekerasan saja. Saya juga ingin tunjukkan kalau orang asli Makassar itu mampu untuk berkarya bukan hanya tahu bikin kacau sana sini. Tangkas Rere Art2tonic yang lahir dan menghabiskan masa remajanya di kota Kendari.

Meet and Great
Film Bombe ini diprakarsai oleh para pemuda Makassar dan mendapat dukungan penuh dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Makassar, yang selalu mengapresiasi hal positif yang dilakukan oleh kaum muda terlebih lagi jika kegitan itu mampu untuk memberi dampak positif bagi seluruh masyarakat. Penggarapan film indie yang diproduksi selama setahun lamanya sejak bulan November 2013 ini, sangat bermuatan lokal dan uniknya menggunakan bahasa Makassar dan Indonesia dengan dialek/logat kental Makassar yang memang dikenal sebagai kota beradat-istiadat dan memegang teguh kearifan lokal. Dengan membuat Makassar menjadi kota mati, melalui adegan demi adegan, Film Bombe membawa kita untuk merasakan dampak jika permusuhan terus terjadi di kota Makassar. Yang tadinya ramai oleh hiruk pikuk aktivitas penduduknya, tiba-tiba dalam sekejap menjadi lengang, sunyi sepi dan gelap tanpa aktifitas apapun. Tidak ada lagi nafas kehidupan yang tersisa, hanya ada 6 anak kecil yang mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan kota yang mereka banggakan.

Kamera Drone Lap. Karebosi
Nisa
Adegan Ririn (Pendiri Kendari Kreatif) FB'
Film ini diawali dengan adegan 2 geng anak sekolah dasar yang saling bermusuhan. Hampir setiap hari mereka berkelahi, ada saja yang memicu pertengkaran mereka. Adegan ini pun menyadarkan kita jika bibit permusuhan sebenarnya sudah ada sejak kita kecil, sebab secara tak sadar, akibat demo anarkis dan tawuran yang sering terjadi, membuat anak kecil melakukan hal yang sama dan saling bombe. Dengan menciptakan adegan jalanan dan pemukiman yang sunyi, bukannya hal yang mudah dilakukan. Makassar terkenal dengan kota yang padat, bukan hanya penduduknya tapi juga tingginya aktifitas kendaraan serta transaksi bisnis dan usaha yang terjadi. Penuturan Ilham Arief Sirajuddin (Aco) yang ikut berakting dalam film tersebut sebagai Walikota berucap pihaknya harus bekerjasama dengan kepolisian untuk menutup beberapa jalan protokol selama beberapa jam. Hal ini untuk mendapatkan adegan yang benar-benar sunyi tanpa satupun aktifitas dan kendaraan yang melintas. Untuk mendapatkan momen sunyi itu, kita juga melakukan syuting pada tengah malam dan dini hari. Mudah-mudahan dengan film ini, membuat masyarakat sadar akan tanggung jawab untuk menjaga Kota Makassar yang kita cintai bersama.

Film yang berdurasi 100 menit ini, tidak hanya mengandung banyak pesan moral dan sosial serta sarat makna. Disisi lain, juga mengangkat betapa indahnya kota Makassar dari sejumlah sudut-sudut kota yang menjadi icon dan spot destinasi wisata buat para pelancong lokal, domestik maupun mancanegara. Diantaranya Pantai Losari, Lapangan Karebosi, Monumen Mandala serta pusat bisnis jalan Andi Pangeran Pettarani. Melalui film ini bisa menjawab dan mengubah image yang terbangun dari kota anarkis menjadikan Makassar sebagai kota yang penuh dengan kreatifitas. Bisa dibayangkan bagaimana rumitnya mengarahkan anak-anak kecil untuk berakting dengan baik dan benar, semua itu dapat terangkum dalam Film Bombe’. Sejak di launching pada tanggal 6 November 2014 di Studio 21 Makassar, jumlah penonton sudah tercatat sebanyak 25.000 orang selama 9 hari pemutaran. Kota kedua tempat diselenggarakannya screaning Film Bombe’ adalah Kendari di bioskop Hollywood Square dari tanggal 8 – 14 Desember 2014. Kita dapat membuat screaning Film Bombe' dibioskop-bioskop ataupun ditempat yang sesuai di kota masing-masing, tentunya dengan mekanisme dan sistem kerjasama secara independen, namun penayangannya dapat diputar ditempat industri film major.

Screaning di Kota Kendari
Sejak Tuhan menciptakan Adam, Tuhan juga menciptakan Hawa. Sejak Manusia ada, Manusia sudah ditakdirkan untuk selalu berteman.  “KARENA TANPA TEMAN KITA BUKAN SIAPA-SIAPA”.


dibalik layar Film Bombe'


Ririn & Daeng Uki

TRAILER FILM:
https://www.youtube.com/watch?v=ur_-6OgXMhA
https://www.youtube.com/watch?v=ecTCHi3JCr0


Jumatan KK Sebagai Ibadah Kreatifitas

Minggu, 09 November 2014



Setiap hari Jumat dimulai pukul 20.00 wita – selesai menjadi agenda rutin mingguan dari Kendari Kreatif (KK) dalam upaya membuka kran pemikiran, ide, imajinasi dan tindakan nyata untuk mengembangkan Ekonomi Kreatif di Kota Kendari - Sulawesi Tenggara. Aktifitas ini  merupakan ajang silaturahmi dan diskusi bersama Komunitas Kreatif, Pengiat Kreatifitas dan Pelaku Industri Kreatif.

Kendari Kreatif (KK) telah mencaplok hari Jumat malam sebagai program mingguan dengan menamakannya Jumatan KK. Jumatan juga adalah upaya KK untuk membangun instrumen dalam usaha menaikkan kualitas kerja dan karya dari seluruh komponen yang ada di KK, utamanya bagi personal dan komunitas agar dapat menguasai public speaking, dimana dalam tubuh KK beranggotakan tidak hanya para kreator muda, insan kreatif dan mahasiswa yang sudah melahirkan beberapa karya, tapi ada pula anak-anak jalanan, pengamen dan yatim piatu yang putus sekolah.



KK akan terus menghidupkan program rutin mingguan itu, guna mengembalikan ruang-ruang publik seperti warkop, galeri, taman kota dan kota tua sebagai ranah bertukar pemikiran, pemahaman, pengetahuan dan ruang-ruang dalam membangun khazanah intelektual masyarakat kreatif. Acara Jumatan terbuka secara umum, siapa saja boleh mengikuti dan ikut mempersentasekan ide dan imajinasinya untuk di diskusikan bersama agar dapat di aplikasikan serta saling sharing melihat kondisi masyarakat dan tren yang lagi up to date.

Derlianun yang merupakan fasilitator dan moderator disetiap pelaksanaan Jumatan KK mengatakan bahwa “awal menghelat acara Jumatan karena kami suka berdiskusi dengan siapa saja, dan pada saat itu kami sementara mempersiapan program event yang bisa merangkul dan melibatkan semua unsur dan sektor industri kreatif tanpa adanya intimidasi, stigma, dogma dan diskriminasi terhadap komunitas-komunitas jalanan. program itu adalah #KKFest yang membutuhkan masukan dan kritikan sebagai alat ukur untuk menyelenggarakannya” Tutup Derlin.

Sementara ditempat yang berbeda via line phone Riqar Manaba menjelaskan bahwa “Hari Jumat adalah hari baik untuk beribadah, olehnya itu Jumatan KK adalah cara kami untuk IBADAH KREATIFITAS dengan bersilaturahmi dan berdiskusi positif mewujudkan ide dan imajinasi yang merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa agar dapat di aplikasikan ke masyarakat. Rangkuman dari setiap Jumatan akan dibuatkan kesimpulan menjadi sebuah formula membuat program kreatif bulanan, triwulan, semesteran dan program tahunan” Tangkas Riqar.


Berawal dari pertemuan demi pertemuan dan diskusi demi diskusi hanya antar komunitas, kreator serta pengusaha muda lokal. Kini acara Jumatan KK sudah dihadiri oleh beberapa tokoh nasional seperti Abdullah Mansuri - Ketua Umum IKAPPI (Ikatan Pedagang Pasar Indonesia), Yusran Darmawan – Penulis Kompasianer of the Year 2013 dan Dosen IPB (Institut Pertanian Bogor), Tita Larasati - Sekjen BCCF dan Dosen ITB (Institut Teknologi Bandung), Ivonne Kristiani – Sekjen Wikimedia Indonesia (promo CMS Ford Foundation) dan Ahmad Sofian – Penulis Pontianak Heritage.

Jumat malam, 31 Oktober 2014 acara Jumatan berlangsung di Kopi KK dengan kehadiran tamu dari Disparekraf Prov. Sultra yaitu Kamaruddin Sekretaris Dinas dan Ammarie Kabag Perencanaan beserta jajarannya dan Pemerintah Pusat Republik Indonesia yaitu Kementerian Pariwisata diantaranya Indra Nitua, Julia, Agus Ramdan, Nuriadin serta rombongan dari Kementerian Keuangan - Dja Kemenkeu yaitu Susilawati Nasir, Roma Uliartha, Sri Astutiningsih, Susi Suvereni, Muhyar dan Asep Syaiful. Silaturahmi dan diskusi bersama terasa sangat mengasikkan membuat suasana kekeluargaan terbangun alamiah, santai apa adanya dengan sajian kopi khas sulawesi dan kuliner lokal yang dijual di emperan jalan namun melahirkan diskusi berbobot dan berkualitas serta dihibur dengan live perform KKcoustic dengan penampilan musik reggae.



Kehadiran jajaran Pemerintah Pusat tersebut dalam rangka monitoring dan evaluasi sebagai bentuk tindaklanjut hasil kegiatan Workshop dan Bimtek Pengembangan Desain Produk dan Kemasan yang telah dilaksanakan di Kota Kendari. Selain itu para rombongan dari Jakarta ingin melihat dan ikut merasakan langsung kondisi dari para Komunitas Kreatif dalam bekerja dan berkarya nyata. Jumatan KK malam itu membentuk interaksi dengan perkenalan komunitas dan pelaku industri kreatif di Sulawesi Tenggara, begitu juga para tamu pusat memperkenalkan diri kepada hadirin yang ada dan saling tanya jawab serta terjadi komunikasi dua arah, yang disiarkan di M’Radio Kendari 105,8 FM.

Yang menarik dari Jumatan kali ini karena adanya perbincangan tentang Ekonomi Kreatif Indonesia oleh Pemerintah RI yang baru ini, setelah dihapusnya Kementerian yang membidangi Ekonomi Kreatif dalam susunan Kabinet Kerja dan telah di umumkan serta dilantik oleh Presiden Jokowi. Padahal kontribusi PDB dari Ekonomi Kreatif berdasarkan perhitungan Badan Pusat Statistik, nilai tambah ekonomi kreatif mencapai Rp 641,8 triliun pada tahun 2013 dengan pertumbuhan sekitar 5,76%, di atas pertumbuhan sektor listrik, gas, dan air bersih; pertambangan dan penggalian; pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan; jasa-jasa; dan industri pengolahan. Pertumbuhan PDB industri kreatif juga di atas pertumbuhan PDB nasional.

Jajaran Kementerian Pariwisata ikut merasa khawatir setelah tidak adanya ekokraf dalam susunan Kabinet Kerja Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla. Namun Indra Nitua - Direktur Industri dan IPTEK berpesan bahwa “kreatifitas itu tidak akan pernah mati walaupun tanpa Kementerian yang mengurusnya secara serius dan konsisten, teruslah berkarya jangan pernah berhenti sedetikpun, mari kita bangun bangsa ini dengan bukti karya kreatif baik berbentuk barang maupun jasa sehingga ikut berkontribusi pada PDB nasional”.  Sambil memegang smart phone dan memperlihatkan kepada hadirin di acara Jumatan KK, lanjut Indra berkata “ada pesan yang baru saja masuk lewat smart phone ini yaitu sebuah bocoran info bahwa sektor Ekonomi Kreatif tetap ada yang membidangi dalam Pemerintahan baru kita, rencananya dibulan Desember 2014 akan dibentuk Badan Ekonomi Kreatif dan Promosi Ekspor Impor Republik Indonesia.

Sementara ditempat yang sama Julia - Kasubdit Desain Produk dan Kemasan mengatakan “Sosialisasi Buku Cetak Biru Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 sementara berjalan, berharap Kota Kendari juga menjadi tempat sosialisasi RPJP tersebut. Itu akan menjadi regulasi yang akan kita kerjakan bersama-sama”. Begitu juga Kementerian Keuangan akan selalu mendukung program-program Ekonomi Kreatif Indonesia demi pembangunan NKRI. Sedangkan Roma Uliartha memberikan masukan ide kreatif pada sektor seni pertunjukan “buat Komunitas yang ada di KK untuk selalu berkolaborasi menampilkan karya dan talenta yang dimiliki agar menghasilkan mahakarya”. Semoga saja Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla tidak menganggap ekokraf sebagai bidang yang kurang penting atau kalah penting dibandingkan dengan bidang lainnya, tetapi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia hasil pilihan langsung rakyat Indonesia itu menepati janji kampanyenya dan berkomitmen akan serius memajukan Ekonomi Kreatif Indonesia.





Ibu Julia (Kementerian Pariwisata RI) menerima proposal #KKFest2014
Bpk Ammarie (Disparekraf Prov. Sultra) menerima proposal #KKFest2014













Surat Buat Presiden JOKOWI; Harapan Kendari Kreatif Kepada Pemimpin Baru

Senin, 20 Oktober 2014


jokowi_jk_wpap_by_vector10-d7kb493

Dibuat di Kota Kendari - Provinsi Sulawesi Tenggara
Tanggal 20 Oktober 2014

Kepada Yth.
JOKOWI
Presiden Republik Indonesia
Di -
Istana Merdeka.


Banyak yang meragukan akan keberhasilan pembangunan ekonomi kreatif. Keraguan itu tentunya lahir dari kelompok dan penggiat usaha kreatif yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Keraguan itu tercermin dari kegelisahan anak muda yang memiliki segudang ide, namun tak memiliki ruang dalam menuangkan ide itu, ide saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kekuatan besar bangsa ini. Pemimpin bangsa ini yang baru saja dilantik menaruh harapan besar kepada anak muda untuk berkreasi. Tapi apalah artinya kreasi jika itu hanya sampai digagasan, tapi tidak sampai pada tataran aplikasi.

Ide-ide besar pemimpin yang baru ini tentunya harus tertuang dalam tindak lanjut dilapangan. Kalau WS Rendra pernah bilang "Perjuangan Adalah Pelaksanaan Kata-Kata" maka kata-kata pemimpin baru kali ini harus jadi perjuangan. Ekonomi kreatif harus diperjuangkan agar berguna bagi masyarakat, dan untuk kemakmuran rakyat. Rakyat jangan hanya di iming-imingi pidato-pidato kenegaraan. Sebab rakyat tak butuh retorika, rakyat butuh kesejahteraan.

Maka dari itu harapan kami dari Kendari Kreatif komitmen akan pentingnya membangun rakyat sejahtera melalui industri kreatif. Kalau ucapan Mbak Tita Larasati Sekjen BCCF (Bandung Creative City Forum), waktu berkunjung ke Markas Kendari Kreatif pernah bilang "Siapapun presidennya ekonomi kreatif harus jalan terus". Kami tahu bahwa kami memiliki banyak kekurangan, namun dengan kekurangan itu kami butuh komitmen bersama pemimpin baru ini untuk terus memperjuangkan ekonomi kreatif dan menutup seluruh kekurangan. Mengenai gagasan atau konsep tentang ide-ide kreatif itu tentunya sudah menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat.

Jangan hanya euforia yang dikedepankan dengan mempertontonkan pesta rakyat dibundaran HI. Lebih jauh dari itu kami selalu berharap dengan kepemimpinan baru ini lebih mengedepankan ekonomi berbasis kerakyatan, dalam hal ini ekonomi kreatif. Jadilah pemimpin seutuhnya, pemimpin yang mendahulukan keinginan rakyat, keinginan yang didukung oleh segenap harapan rakyat Indonesia.

Euforia saja tidak cukup, atau membangun pencitraan saja tidak cukup. Ekonomi Kreatif Indonesia harus digiatkan demi memajukan kesejahteraan masyarakat luas. Kegelisahan kami adalah ketika pidato tentang ekonomi kreatif hanya menjadi fatamorgana. Perlu digaris bawahi, ini untuk pemimpin baru Indonesia, kami menaruh harapan besar mengenai kemajuan ekonomi kreatif. Masalah terbesar kami, ketika rakyat disini hanya menaruh harapan menjadi pegawai berokrasi, satu sektor ini yang menjadi perhatian masyarakat. Sementara tingkat produktifitas masyarakat hanya sampai di forum-forum seminar dan pelatihan, tapi penerapan akan pentingnya produksi itu sama sekali nihil. Semoga pidato itu bukan sekedar dongeng belaka dari seorang pemimpin baru.

Demikian, atas perkenaannya diucapkan terima kasih.


Hormat Kendari Kreatif,
SALAM KREATIF...
Derlianun Barthesian Latoharu








Testimoni Pergerakan




Agar manusia bisa berjalan di awali dengan merangkak.
Agar manusia bisa mengelilingi dunia diperlukan sebuah langkah pertama.
Lukisan dimulai dengan goresan warna yang sederhana.
Simfoni dimulai dengan sebuah nada yang biasa.

Puisi di awali dengan sebuah huruf yang normal.
Bangunan di awali dengan peletakan batu pertama yang kecil.
Dan penyebab orang berhasil bukan karena takdir,
Tapi hasil kombinasi dari Doa, Impian dan Kesungguhan,
Dalam berusaha dan rasa syukur kita terhadap apa yang telah diberikan Maha Kuasa.

Kita baru memulai goresan awal,
Pada lukisan terindah milik kita.
Kita baru membunyikan nada pertama,
Dalam simfoni tersyahdu milik kita.


Kita baru menulis huruf pertama,
Dalam puisi yang akan terkenang selamanya.
Kita baru menaruh batu pertama,
Yang akan membangun gedung termegah dan terkokoh hingga akhir masa.

Jangan berhenti berjuang...!


Pendiri K.U.T. (Kendari Urban Trace) | Praktisi Parkour and Free Running Kendari


Gerakan Indonesia Menulis; Mencari Nilai Keberartian

Jumat, 17 Oktober 2014




Dalam rangka pelaku kreatif untuk memperoleh peningkatan kemampuan produksi dan kreasi karya kreatif berbasis media. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia melalui Direktorat Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Media, menyelenggarakan kegiatan Gerakan lndonesia Menulis. Yang berlangsung pada tanggal 25 September 2014 di Hotel Horison Kendari. Kegiatan ini merupakan penggabungan antara sosialisasi, bimtek dan workshop menulis.


Banyak keseruan yang terjadi dalam acara ini. Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak seru. Itulah yang menjadi awal dimulainya sesi materi, dimana setiap peserta harus memperkenalkan diri kepada semua yang ada didalam ruangan itu. Baik panitia, pemateri maupun kepada seluruh peserta lainnya. Semua membentuk lingkaran, sistem perkenalan dibuat dalam bentuk games. Jadi caranya, setiap peserta harus menyebutkan nama orang lain, dimulai dari pemateri selanjutnya panitia dan berlanjut kepada seluruh peserta.




Games ini bertujuan untuk menstimulus daya ingat berdasarkan urutan pertama hingga urutan terakhir dan tetap dalam lingkaran itu, semua harus bisa menghafal semua nama-nama teman yang ada dan saling membantu untuk mengingatkan. Acara ini dikemas santai namun sangat efektif, tanpa banyak prolog pemateri memberi pemahaman tentang proses kreatif, mulai dari proses kreatif menulis Stephen King, Ernest Hemingway sampai JK Rowling. Kegiatan ini menghadirkan beberapa pemateri yang berasal dari kalangan penerbit juga pengamat buku.


Tutu selaku pihak penerbit buku, menjelaskan hal-hal teknis dan urgen soal penulisan serta dunia penerbitan. Apa-apa yang seharusnya dilakukan sebelum mengirimkan naskah. Di Mizan sekurang-kuranganya ada 30 naskah dimeja editor tiap harinya. Bisa dibayangkan reaksi editor saat membaca kalimat pertama sinopsis, draft novel atau apa pun yang tidak sesuai kaidah penulisan yang baik dan benar. Bahkan mereka langsung mengukur kemampuan literasi penulis dibagian proposal pengajuan naskah.


Penjelasan Tutu telah menjawab rangkaian pertanyaan dari beberapa peserta yaitu Amaya dan Diyanti. Diyanti bertanya mengenai apa yang akan dilakukan calon penulis lokal untuk menembus penerbit mayor, sedang Amaya lebih menyoalkan ketertarikan utama editor terhadap sebuah naskah dan apa saja yang menyebabkan pihak penerbit mengabaikan satu karya, juga bagaimana peluang kesejahteraan penulis di Indonesia. Sesi ini berlangsung begitu menarik, banyak penanya lain yang bertanya dengan antusias. Derlin juga menanyakan tentang kans kearifan lokal yang diangkat melalui sebuah karya fiksi dan non fiksi. Saat ia menyebutkan istilah-istilah lokal Kendari pemateri ikut tertawa.


Pemateri kedua adalah Hikmat Darmawan yang juga tidak kalah menariknya dari pemateri pertama. Walau apa yang disampaikannya tidak lepas dari tahapan-tahapan kreatif dalam menulis. Ia melakukannya dengan gaya yang ringan sembari berkelakar. “Jangan menulis sampah, kasian pohonnya.” kata Hikmat. Kalimat ini membuat peserta terdiam. Sering kali penulis pemula ingin karyanya cepat diterbitkan tapi mungkin tidak berpikir nilai keberartiannya.

 
Tentu tidak semua penulis pemula seperti itu. Intinya saat akan menulis tidak perlu berpikir itu akan bermanfaat bagi orang atau tidak, biarkan saja pembaca yang menafsirkannya. Penulis pemula mungkin sering terhalang oleh “efek manfaat” yang pada akhirnya tidak jadi menulis karena itu. Poin selanjutnya masih melalui pengalaman-pengalaman berharganya, ia menghimbau para peserta tak boleh menyepelekan efek medsos, seperti menulis diblog atau informasi-informasi penting yang bisa diposting melalui akun jejaring sosial. Karena itu salah satu networking yang bagus dan baik serta bisa menghadirkan peluang yang lebih besar.


 Dipenghujung acara peserta yang beruntung karena aktif dalam forum tersebut mendapatkan paket hadiah berupa tshirt, buku dan alat tulis, serta kepada seluruh peserta diberikan 4 lembar kertas seperti questioner untuk diisi dengan beberapa pertanyaan tentang karya sastra. Para peserta semua berpisah beberapa saat setelah pihak penyelenggara menutup acara dengan kata-kata berarti, “Sampai bertemu di kompetisi menulis tahun 2015”.
Copyright @ 2014 Kendari Kreatif. Designed by Templateism | MyBloggerLab

Media Kreatif Sulawesi Tenggara

Media Kreatif Sulawesi Tenggara
Follow Twitter @sultranesia
Back to top
  • L3